ISTANA SEMUT

“Tempat ini adalah istana bagi makhluk kecil ini, tapi tidak bagiku”

 

Kelabunya awan dan genderang air hujan semakin menenggelamkanku pada lautan kesedihan dan pilu yang amat semakin kurasa mati rasa, tak bisa lagi kurasakan apakah  ini sedih, pilu, atau memang kebahagaianku dalam jubah kesengsaraan.

Gubuk yang laksana istana bagi semut ini bagaikan gambaran takdirku , baik musim hujan maupun musim kemarau diriku pun seolah akan roboh seketika. 

Kini aku sedang menyaksikan sebuah gubuk yang reyot, ditemani nyanyian rintik hujan dan dawai angin kencang serta suara semu orang-orang yang tertawa di luar gubuk istana semut ini. Aku bersama ibuku, ibuku yang sedang menjahit pakaianku yang sobek, sama seperti istana semut ini seakan-akan mata ini tak sanggup melihatnya.

Ketika angin berhembus kencang menyentuh pintu gubuk, dalam selimut musim dingin disertai hujan, kau akan mendapati gubuk ini bagai panggung lapuk yang kapanpun bisa roboh, kutemukan dalam kehancuran, lalu para semut akan menyadari bahwa istananya hanya sementara. Sedangkan aku selalu behati-hati setiap waktu, hati dan pikiranku seolah bersiap untuk lari sewaktu-waktu dari istana semut ini, yakni gubukku.

Saat itu tiba, dunia bagai penderitaan dan hidup bagai keheningan kuburan. Air mataku pun berlomba dengan tetesan hujan di luar. Aku memperhatikan gubukku, lalu sesekali menengok pada semut yang berbaris rapi, entah apa yang mereka lakukan, seolah mereka sedang dalam hari raya, bertemu lalu bersalaman, sungguh bahagia, namun aku hatiku begitu merana.

Lalu aku ingat ibuku, dia mendekatiku.. dibawanya sebuah selimut yang sudah lusuh dalam dekapan tangannya yang kecil dan rapuh. Ibu duduk disampingku… Menemaniku sambil berdoa dengan ucapan kebaikan yang berirama dari mulutnya dengan kelembutannya. Seolah ingin menjauhkan aku dari kesedihan, putus asa dan penyesalan. Sesuatu pun aku rasakan dalam dinginnya hujan dan rapuhnya hatiku di sebuah gubuk kecil serupa istana semut ini..

Lalu seketika…

Suara gemuruh dihatiku berubah menjadi nyanyian merdu, ibuku meyelimutiku ke keningku, begitu hangatnya seperti berada dalam rumah yang sangat nyaman. Seketika wajahku merona, seolah matahari pagi telah terbit dan mengelincirkan kesedihanku.

Gubuk yang rapuh ini tak mampu memuat kebahagiaanku dan kenyamananku. Aku seperti mempunyai hari baru bersama ibuku. Seolah aku adalah pemilik istana yang mewah. Meski hanya di sebuah gubuk payah. Namun akau seperti makhluk kecil yang tak menyadari bahwa aku masih hidup dalam istana yang Maha Kuasa. Layaknya aku seorang semut yang berada disebuah gubuk, baginya begitu besar gubukku ini. Pun saat dalam sentuhan ibu seolah aku menjadi manusia kecil, manja dan tak tau apapun.

Dengannya aku seperti berada di istana yang Maha Kuasa, istana dunia yang rapuh seperti gubukku, namun istana Allah SWT ini adalah alam yang kulihat melalui ibuku dan melalui celah rumahku.

Gubukku adalah istana semut.

Dunia adalah istana Allah untukku..

Meski kesengsaraan adalah temanku, ia hanya seorang teman bukan?

Dan meski kesedihan adalah jubahku, tentunya aku bisa menggantikannya dengan sutera suatu saat nanti..

Semut dan ibuku..

Telah mengajari aku,setidaknya saat ini..

 Akan arti hal yang besar dalam wujud yang kecil.

Dan sesuatu yang tidak berarti (fana), dalam wujud yang besar..

Tempat ini adalah istana bagi makhluk kecil ini, tapi tidak bagiku.

***Image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s