Menyalami hujan

Pagi ini hujan ikut menyapa bumi, ya bumi bukan manusia saja.
segeralah keluar, jabatlah hujan dan beri salam.

Satu-satunya sabda Allah menemui manusia langsung, laksana setiap tetes airnya adalah pelukan Allah. Tak ada salahnya menengadahkan wajah, menjulurkan tangan. karena ia berlari menuju apa yang ia jatuhkan.

Menyalami hujan, bak sastra yang lunglai, sastra itu buka suatu hal yang ‘lemah’ apalagi memasrahkan kata pada dunia dan pada mata pembaca.Atau Sebuah kemanjaan hati untuk diungkapkan. sungguh tidak.

Sastra itu salah satu bentuk ‘harta kata’

ya, Sastra bagai menyalami hujan.
Bukan karena ia ‘melankolis’
Justru karena betapa pahamnya akan kehidupan yang amat keras, segala hal yang berkarakter kuat,pun didikkan tegas. menjadikan sastra sebagai peristirahaatan sejenak. ya sejenak saja.

yang mampu mengurai sastra , yakinlah ia tengah dan telah berpapasan dengan kerasnya batu kenyataan hidup, tegasnya kerja keras untuk sesuatu hal. dan kuatnya cengkraman jemari orang-orang yang mencibir.

Bukan tempat berlari, namun sastra membuat kau berteduh, karena saat itu kau akan ‘mengalami hujan ruh’.

Hujan pun seperti slide hitam putih yang berembun, hujan secara spontan menyimpan memori kuat apa yang ia lihat.

betapa bersyukurnya orang-orang yang mampu mengingat masa kecilnya.
Karena ia kan melihat kasih sayang orang tuanya.

layaknya salah satu tokoh film, melalui takdir Allah, memahatkan luka di dahi ini, sebagai saksi. saya pun mengalami masa kanak-kaak yang seperti pelangi, meski tak mampu diingat, sekeras dan sekuat memori, biarlah…

kecelakaan itu pun dari orang tuaku, dan akan ada hikmah akibat dari hilangnya memori beberapa tahun masa kanak itu.

Karena aku masih mampu memandang ‘memori berjuta rasa’ anak-anak kini. sudah cukup. meski aku mempertanyakan hujan yang semakin deras ini…

(hujan kenapa kau menjadi saski hilangnya memori..
padahal kaulah ingatan itu…
amnesia karena luka itu lebih perih daripada luka itu sendiri..)

Maaf, kadang aku memandangmu (hujan) dengan keluh
dalam tayangan hitam putih yang berembun.

Seolah tulisan ini memandangku dengan tatapan papa, patut dikasihani..
Karena tergeletak di depan mu…

Salam adzan hujan.hujan

~Allahumma shayibban nafi’an~
Alhamdulillah ala kulli haal

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s