Ketika khilaf bertakbir atas nama Maaf.

“kadang kehilangan akan sesuatu hal yang dicintai membuat kita melakukan kesalahan yang membuat jalan hidup seseorang berubah, baik atau bahkan sebaliknya..”

Satu, dua , tiga…
Jari waktuku menghitung keresahan selama tiga tahun, resah karena lisan belum juga menguntai maaf atas peristiwa yang terjadi di mushola terminal tiga tahun lalu.

Senja, adzan maghrib senantiasa disambut semesta dengan tasbih secara tenang dan seolah diam. Begitu juga setenang dan sediamnya para jama’ah yang mendengarkan seruan kemenangan Allah itu.

Bagi seorang mahasiswi muslim yang pulang pergi sepertiku, senja seperti seperti lukisan wajah orang tua yang terhampar di langit jingga, guratan awannya adalah pesan bahwa mereka menunggu di rumah.

Tapi senja dan Jakarta seolah dihadang oleh macet yang mewajibkan orang menunggu dengan sabar . Senja, biasanya aku sudah berada di terminal perbatasan kota. Hampir selalu pas dengan adzan maghrib yang tiba di telinga. Pilihannya, ya shalat di musholla terdekat…

Di terminal perbatasan kota itu, sebutlah pulo gadung. Ada mushola yang nyaman bagiku, as salam gelarnya..

Tapi saat itu as salam seolah ikut haru, ia menyaksikan dua handphone ku hilang saat aku berwudhu. Sebelum qomat itu aku sempat memeriksa tas, satu kata di hati. “handphone ku raib!” . tapi kutahan karena shalat maghrib harus dilaksanakan dan menahan pilu yang amat dalam bersama takbir awal malam itu. Serasa seperti fahri yang shalat di penjara, dengan kesedihan yang membara.

Singkat cerita, selepas shalat aku tak tahan menangis, orang disamping melaporkan kehilangan itu kepada ibu pemilik mushola, kemudian ibu itu menyalahkan bapak ‘pengurus masjid’ satu-satunya di mushola itu. Padahal aku tahu bapak itu sangat baik, jika aku hendak shalat, ia menjamu dengan senyum, sapa , dan kebaikan lainnya.

Yang saya sesalkan bapak tersebut tidak bekerja lagi di mushola tersebut semenjak peristiwa ‘kehilanganku’ . Aku kehilangan handphone tak mengapa, tapi bapak itu kehilangan pekerjaan yang mungkin sangat ia cintai, aku tak menjumpainya lagi di sekitar terminal…

Sepulangnya aku menangis pada ibu. bukan karena handphone tapi teringat bapak yang diusir itu, ini karena lelehan air mata yang tidak pada tampatnya itu. Sesal..

Sampai suatu hari, aku melihat jalan hidupnya berubah, ia menjadi ‘polisi receh’ yang mengarahkan angkutan umum di terminal. Sayangnya aku sedang di angkutan umum yang hendak berjalan, ia tersenyum mengangguk, kubalas dengan tundukan…

Angkutan umum yang melaju, seperi berlalunya bapak pengurus masjid yang tak kutemui lagi, hingga kini…

Setiap lebaran aku selalu berkata pada ibu untuk menyisakan bingkisan untuknya. Namun bingkisan itu lagi-lagi tergelatak saja, kecewa tak bertemu si penerima maaf.

Sampai saat ini, hanya bisa menyelipkan maaf pada takbir yang berkumandang. Karena kalimat Allah maha besar seolah mengkerdilkan diri serta menghilangkan resahnya khilaf, atas maaf yang belum terucap dan atas hati yang tak berujung senyum langsung. .

Semoga bertemu suatu saat nanti…

Untuk memberikan harta kata “maaf” untuknya.

Catatan :
1. artikel ini untuk LOMBA ANNIDA-ONLINE “TUNJUKKIN MAAF LO!”
2. Teruntuk bapak penjaga masjid As Salam
3. silahkan berikan komentar atau ratings
4. Mohon maaf lahir batin untuk kalian semua.afwan

http://annida-online.com/artikel-7833-lomba-tunjukkin-maaf-lo.html

Iklan

One thought on “Ketika khilaf bertakbir atas nama Maaf.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s