Kisah Murid dari Kampung Kota dan Perumahan Elit

alhdmulillah, ini satu-satunya kata yang mampu menggambarkan kegembiraan ketika bertemu anak-anak.

senin lalu aku mendapat dua murid baru, mereka anak kampung kota, belajar di sekolah dasar.
kesan pertamaku untuk mereka, ya Allah lucu banget!! 😀
apalagi yang perempuan, betawi asli banget,namanya Riska. kami memulai pelajaran dengan Bahasa Inggris.

Selama dengan mereka aku senyum lebaar terus dan terkadang tertawa terpingkal ketika Riska mengomentari setiap yang kukatakan dalam bahasa Inggris. Ketika kuminta ia membaca sebuah percakapan di buku : ia membacanya seperti membaca tulisan Indonesia. seperti good morning, dibaca apa adanya. terus kalau aku bilang bukan begitu bacanya dia bilang ko gitu ka? kenapa beda? emang kakak tinggal di Inggris ? ko tahu? XD *tahan tawa.
bahkan aku harus menuliskan cara membaca Bhs. Inggris. seperti (good dibaca gud.dst).

sungguh sangat polos.

lain lagi dengan muridku anak perumahan elit, sebut saja di jalan salzburg. Meskipun sama-sama SD ,jelas berbeda sekali dalam ‘menikmati’ pelajaran Bahasa Inggris. Bahasa Inggris menjadi hal yang sangat biasa dan membosankan, tak ada pertanyaan. Dengan mereka pun aku seolah tidak bisa berkata menggunakan Bahasa Indonesia.
Namun aku melihat sisi manja dan kesepian, serta kelelahan. Belajar di sekolah yang bertaraf internasional itu membuat mereka seolah tidak seceria anak kampung kota. dan maaf terkadang tak mau bergaul dengan level dibawahnya.

sungguh sangat haru.

Mereka semua sesunggugnya ISTIMEWA. ya! semua anak itu ISTIMEWA bagiku. mereka memiliki keunikan.

Mereka semua masih di sekolah dasar dan mereka masih sangat belia. tapi aku menemukan kecerian yang berbeda. cara pandang yang berbeda.

bahkan ada satu hal lagi ketika mengajar anak-anak tukang bersih-bersih lingkungan di sekolah yang hampir dirobohkan, di depok. sedangkan UN hanya beberapa bulan, sepulang sekolah pun mereka berjualan. sekolah pun bukan Penerimaan Siswa Baru tapi Pengambilan Siswa baru. letaknya cukup jauh dari kota. memang ini sukarela. tapi betapa tak terkiranya nikmat menatap wajah mereka dan ketika mereka menunggu kita dan menyambut dengan riang. kakak..! kakak..!

aah, sungguh. kadang aku malas mengajar. untuk mengajar aku memang sukarelawan kecuali privat siswa internasional. Apapun itu, ketika bertemu mereka seolah kemurungan itu hilang! tak ada malas dan enggan. Malah mereka memberikan kebahagiaan dan pengalaman. Mengajar dan mendidik itu kebutuhan jiwa dan untuk mengaplikasikan ilmu.

anak-anak adalah Ladang untuk ditanami akhlak yang baik, diberi pupuk pengetahuan, disirami kasih sayang. Diperhatikan perkembangannya hingga ia mampu menghasilkan ‘buah’, sampai ia menyadari dan bertanggungjawab ‘buah’ tersebut akan ia gunakan untuk apa nantinya.

Semoga kalian sukses, tak perlu ingat namaku. ingat saja sebutan yang biasa kalian bilang “kakak yang kutunggu” atau “kakak dari inggris” dan “kakak matematik”

Prestasi itu memang akan membuat kalian istimewa, namun kebermanfaatan kalian akan membuat kenangan yang terpahat di hati manusia dan terbang ke singgasana akhirat. kampkot

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s